Diriwayatkan oleh Abu Abdullah Jabir bin Abdullah Al-Anshari r.a. bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw. Ia berkata , " Bagaimana pendapatmu jika saya melakukan shalat-shalat fardlu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menghalakan yang halal dan mengharamkan yang haram, serta tidak menambahkan selain itu sedikitpun, apakah saya masuk surga?" Nabi pun menjawab "Ya." (Diriwayatkan oleh Muslim)
Makna mengharamakan yang haram adalah manjauhinya, sedangkan menghalakan yang halal artinya melaksanakannya dengan penuh keyakinan akan kehalalannya.
Sabtu, 20 Oktober 2012
Berbuatlah sesukamu
"Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, 'Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.'" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari)
Senin, 03 September 2012
5
Hal yang Harus Dikontrol dalam Keuangan
Secara umum pebisnis mengatakan bahwa risiko sama
dengan reward, atau semakin besar risiko semakin besar keuntungannya, Robert
Kiyosaki menambahkan unsur penting yang lebih masuk akal yaitu kontrol.
Ada hal-hal yang bisa dikontrol, ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Ada hal-hal yang kita pengaruhi walaupun di luar kontrol.
Banyak orang sedih, marah dan tidak berdaya karena mereka fokus kepada sesuatu yang tidak bisa mereka kontrol. Seperti contoh, kita tidak bisa mengontrol siapa presiden yang terpilih, atau berapa bunga bank, situasi ekonomi, atau masa lalu kita yang sudah berlalu.
Ada juga yang dalam lingkaran pengaruh kita, seperti contoh, sikap orang lain yang bisa kita pengaruhi ketika kita berinteraksi. Sikap orang lain ini walaupun kita bisa pengaruhi bisa menjadi di dalam kontrol atau di luar kontrol kita adalah sesuatu hal yang kita rasa pasti masuk dalam kendali kita.
Kenapa investasi di saham berisiko? karena kita tidak bisa mengontrol pendapatan, pengeluaran, atau hutang dari perusahaan yang sahamnya kita miliki. Contoh misalnya, kita membeli saham PT. X dan direksi PT. X, memutuskan untuk membeli helikopter sebagai kendaraan dinas, kita tidak bisa bicara kepada Direksi PT.X bahwa kita tidak setuju.
Demikian juga ketika Direksi PT. X memutuskan untuk menaikkan atau menurunkan harga produk atau jasanya kita tidak bisa mengontrolnya. Menurut Robert Kiyosaki kalau kita ingin mengontrol masa depan keuangan kita, ada 5 hal yang bisa kita kontrol.
Kelima hal yang bisa kita kontrol dalam keuangan, adalah :
1.Attitude/sikap
2.Plan/rencana
3.Education/pendidikan
4.Friend/teman
5.Advisor/mentor
Mencintai saudara seiman karena Allah Ta'ala Cinta dan sayang memang adalah hal yang
manusiawi pada manusia. Allah menganugerahi perasaan cinta pada setiap insan.
Bahkan Allah juga menurunkan aturan berkaitan dengan cinta.
Dalam banyak hadist Rasulullah SAW, Rasul menjelaskan tentang adanya
perasaan dan rasa sayang seorang muslim pada saudaranya (muslim yang lain).
Berikut adalah bagimana car seorang muslimah mencintai saudari seimannya.1. Mengasihi dan menyayangi karena Allah Ta’ala
Banyak cinta ternoda oleh kepentingan duniawi atau motif tersembunyi. Saudariku, cinta sejati adalah hubungan yang berasal dari kemurnian cahaya bimbingan Islam (Dr Muhammad A. Al-Hashimi). Ini adalah ikatan yang menghubungkan Muslim dengan saudara seiman mereka. Tak peduli perbedaan bahasa mereka, perbedaan letak geografis tempat ia berada, tak peduli perbedaan budaya dan warna kulit. (Ini adalah) ikatan atas dasar iman kepada Allah (subhaanahu wa ta’ala).
Sebuah cinta yang merupakan ekspresi dari manisnya iman dapat dilihat dari hadist riwayat Anas ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.
Jadi ini bukan cinta demi status, atau ketenaran. Ini adalah cinta yang membutuhkan hati yang bersih, hati yang ringan, dan lembut.
Dari Mu’adz ibn Jabal ra, katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur: “Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para An-Nabi dan para Asy-Syuhada iri kepada mereka”. (HR. At Tirmidzi).
Cinta semacam inilah adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kebencian, kecemburuan, dan persaingan dari hati manusia.
2. Menunjukkan kepada mereka kebaikan dan kesetiaan pada teman dan saudara mereka juga.
Pentingnya kebaikan disebutkan ratusan kali dalam Al-Qur’an! Islam menanamkan pengikutnya dengan karakteristik kebaikan dan kesetiaan terhadap teman-teman, termasuk orang tua. Jika kita ingat kisah tentang Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata: “Saya tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari semua istri-istri Nabi s.a.w. sebagaimana cemburu saya kepada Khadijah, padahal saya tidak pernah melihatnya sama sekali, tetapi Nabi s.a.w. memperbanyak menyebutkannya -yakni sering-sering disebut-sebutkan kebaikannya-. Kadang-kadang Nabi s.a.w. menyembelih kambing kemudian memotong-motongnya seanggota demi seanggota, kemudian dikirimkanlah kepada kawan-kawan Khadijah itu.
3. Selalu berwajah hangat, ramah, dan tersenyumketika bertemu
Begitu berartinya sebuah senyuman dalam kehidupan hingga Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi.
”Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqoh.”
Artinya, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”
Senyum memiliki fungsi yang luar biasa dalam mengubah dunia. Mengapa demikian? Karena senyum merupakan salah satu instrumen dakwah dan syiar Rasulullah SAW yang turut melengkapi kemuliaan budi pekertinya dalam etika pergaulannya dan dalam membina keharmonisan rumah tangganya.
Suatu hari, seorang Badui Arab meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW dengan menarik sorban beliau hingga tercekik, dan tarikan sorban itu meninggalkan bekas pada leher Rasulullah SAW. Orang ini berpikir, bahwa Rasulullah pasti marah setelah ia melakukan hal tersebut. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Ia terkesima menatap Rasulullah SAW yang tidak marah atas perlakuannya yang sangat kasar, tetapi justru Rasulullah SAW tersenyum dengan ikhlas kepadanya.
Akhirnya, senyum tulus Rasulullah SAW, membawa orang Badui ini menikmati indahnya Islam. Sebuah senyum yang didasari ketulusan dan keimanan mampu mengubah keyakinan seseorang. Ketulusan senyum dan kemuliaan budi pekertinya dalam berdagang bahkan berperang membuatnya mampu menyebarkan Islam hingga Kisra dan Persia.
4. Tulus terhadap mereka
Ketulusan adalah salah satu prinsip paling dasar dari Islam dan landasan utama iman. Tanpa ketulusan, iman saudara adalah valid dan dia Islam adalah berharga. Ketika orang-orang percaya pertama memberi kesetiaan (bai’’at) kepada Nabi (sallallahu `alaihi wa sallam), mereka berjanji ketulusan mereka. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Jarir ibn ‘Abdullah (radiallahu `anhu):” Saya memberi kesetiaan kepada Nabi (sallallahu `alaihi wa sallam) dan berjanji untuk mengamati salat, membayar zakat dan untuk menjadi tulus terhadap setiap Muslim.” [Muttafaqun 'alaihi]
Selanjutnya, Nabi kita tercinta (sallallahu `alaihi wa sallam) berkata:” Tidak ada dari kalian benar-benar beriman sampai ia mencintai saudaranya lebih dari dirinya sendiri” [Muttafaqun 'alaihi]. Dan tentu saja mustahil cinta seperti itu bisa ada tanpa adanya ketulusan.
5. Tidak meninggalkan atau membiarkan saudaranya melenceng dari keimanan
Islam adalah agama yang menyerukan cinta, silaturrahmi, dan kasih sayang sesama. Islam juga melarang kita meninggalkan saudara dalam iman dan saling membenci atau meninggalkan satu sama lain ketika ada yang melakukan kekufuran. Hal ini tersirat dalam hadist yang ditulis oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad: “Tidak ada dua orang yang mencintai satu sama lain karena Allah, atau karena Islam, akan membiarkan pelanggaran kecil pertama yang dilakukan salah satu dari mereka”.
Hadits ini menunjukkan bahwa kefuturan yang dialami saudara kita tidak boleh didiamkan. kita harus mengingatkannya. Selain itu, tidak bertegur sapa dengan saudar seiman tidak boleh terlalu lama, maksimal tiga hari. Semakin lama kerenggangan berlangsung (3 hari atau lebih) yang lebih besar dosa dan yang lebih parah adalah hukuman yang akan menimpa dua orang yang berselisih.
6. Menahan amarah
Marah adalah hal yang manusiawi, terjadi pada siapa saja dalam suatu hubungan persaudaraan. Namun, Muslim sejati akan mampu menahan amarahnya dan cepat memaafkan saudaranya, dan tidak ada rasa malu dalam melakukannya. Sebaliknya, dia mengakui ini sebagai hal yang baik yang dapat membawanya lebih dekat kepada Allah dan mendapatkan cintanya-Nya yang Dia menganugerahkan hanya pada orang-orang yang berbuat baik: “… [mereka] yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan). Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. ” [Al-`Imran 3:134]
7. Tidak bergosip atau menjelek-jelekkan mereka
Muslimah dilarang bergosip atau menggunjing saudaranya dalam Islam. Dia tahu gosip itu adalah haraam Qur’an mengatakan: “… janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang “. [Al-Hujuraat 49:12]
Muslimah yang cerdas akan menahan lidahnya dan berbicara hanya yangbaik tentang saudaranya.
8. Menghindari berdebat dengan mereka, membuat lelucon yang menyakitkan, dan melanggar janji
Hal ini tseperti hadist Rasulullah yang dituliskan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad bahwa Nabi kita (sallallahu `alaihi wa sallam) berkata:” Jangan berdebat dengan saudaramu, jangan bercanda berlebihan dengan dia, jangan membuat janji dengannya kemudian kamu ingkari.”
Berdebat mengarah ke kesalahpahaman lebih lanjut, kekakuan, dan merupakan jalan pembuka bagi Iblis; lelucon yang menyakitkan sering menyebabkan kebencian dan hilangnya rasa hormat, dan melanggar janji membuat orang marah dan merusak cinta.
9. Murah hati dan rela berkorban untuk saudaranya
Muslimah lebih suka bersahabat dengan sesama Muslim atas non-Muslim. Ikatan kepercayaan umum membentuk dasar bagi kemurahan hati, karakteristik Islam yang dasar. Kami memohon dari Allah (subhaanahu wa ta’ala) menjadi “… dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir…” [Al-Maidah 5:54]
10. Berdoa untuk saudaranya dalam ketidakhadiran mereka
Muslimah yang tulus yang benar-benar menyukai sauadarnya melebihi dirinya sendiri, maka ia tidak lupa berdoa untuk saudaranya dalam ketiadaannya.
Dengan menjadkan Islam sebagai identitas utama kita untuk mencintai saudara seiman atas dasar kepatuhan kepada Allah Ta’ala adalah satu-satunya hal yang akan menyelamatkan kita di Hari Kebangkitan kelak.
Selasa, 24 April 2012
Hal terindah dari
seorang wanita adalah…
Bukan saat ia tersenyum karena bahagia, tapi saat
butiran air matanya terjatuh dalam doa...
Bukan karena kata-katanya yang indah, tapi saat ia diam
dalam dzikir.
Bukan karena kecantikannya yang mempesona, tapi
karena wudhu yang selalu membasahi wajahnya.
Bukan karena keelokan tubuh yang ia pamerkan,
melainkan karena keteguhannya dalam menjaga aurat.
Ia adalah permata yang dirindu, embun yang dinanti,
bahkan bidadaripun cemburu padanya...
AMANAT ORANG TAQWA
Abu Bakar as-Shiddiq
Pada suatu malam di satu sudut jalan kota Madinah, Umar bin Khattab berjanji dengan seorang nenek buta untuk menolong memenuhi kebutuhannya. Tetapi ketika ia mendatanginya, ternyata telah ada orang lain yang datang mendahului menolong nenek tersebut. Berkali-kali Umar mendatanginya, berkali-kali pula ia kedahuluan. Akhirnya Umar bin Khattab mengintip ingin tahu siapakah orang yang selalu mendahuluinya itu. Ternyata orang itu tidak lain adalah Abu Bakar as-Shiddiq yang saat itu telah menjabat sebagai Khalifah.
Bibi Khubaib bin Abdurrahman menceritakan : " Abu Bakar selalu mendatangi kami selama tiga tahun. Dua tahun sebelum ia menjadi Khalifah dan setahun setelah ia menjadi Khalifah. Anak-anak perempuan kampung selalu mendatanginya dengan sambil membawa kambing-kambing mereka. Kemudian Abu Bakar memerahkan susu kambing-kambing mereka itu untuk mereka."
Umar bin Khattab
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Ali bin Abi Thalib mendatangi rumah Khalifah Umar bin Khattab. Ketika itu Khalifar sedang menulis dengan diterangi sebuah pelita yang berada diatas mejanya. Dan setelah Ali masuk kedalam ruangannya, maka bertanyalah sang Khalifah kepadanya : " Wahai Abul Hasan, ada keperluan apakah engkau datang kemari, apakah keperluan kaum Muslimin atau untuk keperluan pribadi saja?"
" Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda bertanya begitu? tanya Ali bin Abi Thalib yang sedikit agak terkejut dengan pertanyaan tersebut." Kalau kedatanganmu kemari untuk kepentingan kaum Muslimin, maka aku akan membiarkan pelita ini menyala terus. Tetapi jikalau kedatanganmu kemari untuk keperluan pribadi, maka aku akan mematikannya agar jangan sampai harga kaum Muslimin tergunakan tidak untuk urusan mereka," Jawab Khalifah Umar.
Abu Bakar as-Shiddiq
Pada suatu malam di satu sudut jalan kota Madinah, Umar bin Khattab berjanji dengan seorang nenek buta untuk menolong memenuhi kebutuhannya. Tetapi ketika ia mendatanginya, ternyata telah ada orang lain yang datang mendahului menolong nenek tersebut. Berkali-kali Umar mendatanginya, berkali-kali pula ia kedahuluan. Akhirnya Umar bin Khattab mengintip ingin tahu siapakah orang yang selalu mendahuluinya itu. Ternyata orang itu tidak lain adalah Abu Bakar as-Shiddiq yang saat itu telah menjabat sebagai Khalifah.
Bibi Khubaib bin Abdurrahman menceritakan : " Abu Bakar selalu mendatangi kami selama tiga tahun. Dua tahun sebelum ia menjadi Khalifah dan setahun setelah ia menjadi Khalifah. Anak-anak perempuan kampung selalu mendatanginya dengan sambil membawa kambing-kambing mereka. Kemudian Abu Bakar memerahkan susu kambing-kambing mereka itu untuk mereka."
Umar bin Khattab
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Ali bin Abi Thalib mendatangi rumah Khalifah Umar bin Khattab. Ketika itu Khalifar sedang menulis dengan diterangi sebuah pelita yang berada diatas mejanya. Dan setelah Ali masuk kedalam ruangannya, maka bertanyalah sang Khalifah kepadanya : " Wahai Abul Hasan, ada keperluan apakah engkau datang kemari, apakah keperluan kaum Muslimin atau untuk keperluan pribadi saja?"
" Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda bertanya begitu? tanya Ali bin Abi Thalib yang sedikit agak terkejut dengan pertanyaan tersebut." Kalau kedatanganmu kemari untuk kepentingan kaum Muslimin, maka aku akan membiarkan pelita ini menyala terus. Tetapi jikalau kedatanganmu kemari untuk keperluan pribadi, maka aku akan mematikannya agar jangan sampai harga kaum Muslimin tergunakan tidak untuk urusan mereka," Jawab Khalifah Umar.
Langganan:
Komentar (Atom)