Kamis, 26 September 2013

SEMANGAT

Menuntut ilmu itu adalah hak bagi seluruh umat manusia, ilmu apapun. Ilmu yang menghasilkan pengetahuan tentunya….ilmu yang memberi kita manfaat dan bisa kita amalkan kepada orang – orang di sekitar kita. Tua, muda, laki – laki, perempuan, dan yang lainnya, mereka semua memiliki hak untuk mendapatkan ilmu. Ilmu itu tidak selalu kita dapatkan dalam bangku formal saja seperti di sekolah, tapi bisa kita dapatkan dimanapun kita berada. Nonton TV, kita bisa dapat ilmu,asal jangan nonton gossip melulu..sinetron melulu,dll melulu. Tontonlah yang bermanfaat buat kita, berita,ataupun yang lainnya. Pokoknya yang mendidik dan memberi kita ilmu dech… J. Kumpul sama temen, itu juga kita dapat ilmu, asal jangan ngerumpi kalau kumpul. Tau – tau kalau ngumpul yang di bahas si dia, si ini, si itu. hmmm pastinya itu bukan ilmu yang kita dapet, tapi ngrasani “nggosip” namanya. Kalau kumpul, bahaslah materi – materi yang bermanfaat, seperti bertukar pendapat tentang ide – ide yang bagus tentang bisnis,tentang bagaimana membuat sesuatu ataupun tentang buku – buku yang di baca. Itu baru bermanfaat… okay. J . And many other activities that can give us knowledge. And pastinya kegiatan itu harus positive. J
Memang bener banget semboyan “ Raihlah ilmu sampai ke negeri China”. Tapi kalau belum bisa ke negeri China, ya jangan di paksakan…tau – tau karena gak kesampaian ke China karena gak punya kendaraan beroda 4, ataupun beroda banyak lainnya..:) tau – tau nekad kesana bawa kendaraan beroda dua,,,sepeda ontel lagi, kan malah nantinya malah gak asyik gitu. J Banyak orang – orang yang pandai dan cerdas kok di Negara kita ini, bahkan mereka mungkin sudah belajar di China. Jadi sama saja kan kita mendapatkan ilmu dari China, , ,melalui orang lain.. J it’s okay, take it easy.
And NOW I ask question…. Apakah kalian tergolong orang – orang yang SEMANGAT dalam mencari ilmu….?
Tanyakan pada hati kalian masing – masing ya… J
Saya mau beri kalian para pembaca, gambaran tentang SEMANGAT belajar mencari ilmu…
Ini dia kisahnya….
“ Mereka adalah mahasiswa di kampus Penyuluhan, di suatu kota di Indonesia. Kampus ini memiliki ratusan mahasiswa, dan mahasiswanya berasal dari segala penjuru provinsi di Indonesia, mungkin dari Sabang sampai Merauke. J. Dan yang kuliah di kampus tersebut adalah mereka yang sudah mendapatkan gelar PNS, bayangkan, usia mereka pasti bukanlah usia yang muda sperti belasan tahun yang ada di bayangan kita kan..pastinya mereka sudah berusia puluhan, paling tidak 30 ke atas. Bahkan mungkin ada dari mereka yang sudah memiliki cucu. It’s possible. Udah bisa ngebayangin kan gimana dan seperti apa mereka, bahkan rata – rata mereka adalah orang – orang NTT,NTB,Timor Leste, Kalimantan, Sulawesi, bahkan ada pula yang dari Jawa juga. Dari berbagai bahasa dan ragam budaya, mereka bertemu di kampus tersebut. Dan hebatnya kampus tersebut adalah di terapkannya pembelajaran Bahasa asing. Ngomong – ngomong Bahasa asing, apa coba yang ada di benak kalian? Mungkin langsung Bahasa Inggris. yups, kalian bener, Bahasa asing nya yaitu Bahasa Inggris. Bayangkan, mereka di wajibkan untuk belajar Bahasa Inggris dan bisa di bilang kampus itu mewajibkannya, karena persyaratan. Dan apa yang kalian bayangkan? Ya..mereka mengikutinya dengan sangat SEMANGAT meskipun mereka merasa sedikit kesulitan. Dengan usia yang sudah tidak lagi muda, memorinya sudah terbagi kemana – mana, mereka masih selalu antusias dan SEMANGAT ketika para instrukturnya masuk ke kelas mereka dan memberi mereka kosa kata – kosa kata yang mungkin mereka baru dengar, bisa saja begitu. Semangat dan rasa ingin bisa mereka berbicara Bahasa Inggris lancar seperti instrukturnya, membuat mereka untuk tidak menyerah untuk selalu mengikuti kegiatannya di dalam kelas, dan pantang mengantuk di dalam kelas. karena mereka menyadari kalau mereka mengantuk, nanti mereka ketinggalan pelajaran dan tidak tahu bagaimana pengucapan kosa kata dalam bahasa Inggris. Mengetahui pengucapan Alphabet dari mulai A-Z, itu sangat berarti bagi mereka. Dan dalam kondisi itu, mereka selalu antusias dan semangat yang luar biasa. meskipun mereka sebenernya merasa sulit. Datang awal, duduk menunggu instrukturnya, sambil sesekali membaca kosa kata yang di berikan instrukturnya hari kemarin, ketika belajar, mereka selalu tertawa, semangat, tanpa mengeluh, tanpa mengantuk dan tanpa bermalas – malasan. Sampai pada akhirnya merekapun sudah terbiasa dengan Bahasa Asing tersebut dan lidah mereka sudah mulai lemas dan sedikit – demi sedikit mulai bisa bercakap – cakap menggunakan Bahasa Asing tersebut.”
Itulah gambaran SEMANGAT kali ini dalam menggapai ilmu, dalam mendapatkan ilmu, dalam rangka ingin bisa dan ingin tahu. Lalu bagaimanakah dengan kita yang masih tergolong muda ini? Apakah kita selalu SEMANGAT di sekolah? Di kampus? Mendengarkan guru – guru kita yang memberi materi dalam bentuk apapun? Hmmmmm kalian pasti menjawab “YA”.
 Dulu saya ketika duduk di bangku kuliah, saya sering sekali mengantuk dengan materi - materi tertentu, mata ini seakan di gelantungi oleh sebongkah batu yang di bawahnya ada gajahnya J sampai – sampai gak bisa melek dan akhirnya tertidur. Tapi itu dulu, beberapa bulan yang lalu J. Sekarang saya tahu dan sadar bahwa ilmu itu sangat penting untuk kita kejar dan kita dapatkan, dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, dalam kondisi apapun.  
Benar tidak? J 
So, kita sebagai generasi bangsa yang masih muda – muda ini, ayo kita bangun SEMANGAT yang MENYALA – NYALA untuk menggapai ilmu untuk cita – cita kita. Don’t ever give up and always be good person yang haus akan Ilmu. Kurangi waktu tidurmu untuk membaca ilmu – ilmu baru yang belum pernah kamu temui. Dan jangan sekali – kali mengurangi waktu tidurmu dengan kegiatan – kegiatan yang tidak bermanfaat buat dirimu.Okay.

Bye bye. . . semoga bermanfaat ya….

Rabu, 25 September 2013

SETIA

Saya tidak akan mendeskripsikan apa itu makna setia dalam hal ini. Namun saya hanya memberikan gambaran tentang kesetiaan.
Berikut ini gambarannya :
Pernah mendengar kisahnya Nabi kita Ayyub r.a. Beliau memiliki seorang istri yang sangat setia lagi menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Saat itu keluarga Nabi Ayyub di uji dengan berbagai ujian dari Allah SWT. Dari mulai anak dan harta benda serta tenpat tinggalnya. Beliau hanya memiliki satu rumah yang mana rumah itu adalah satu - satunya tempat berharga untuk bernaung, harta, beliau bahkan bisa di bilang tidak banyak untuk menopang kehidupannya. Di samping itu, sang Nabi juga di uji dengan penyakit yang di deritanya hingga tidak ada sejengkal bagian tubuhpun yang tidak terkena penyakit, namun ada satu yang masih utuh dan tetap utuh untuknya yaitu Qolbu nya. Hatinya yang selalu hidup dan tetap sehat sehingga Beliau mampu tetap beriman dan berkomunikasi dengan sang penciptanya yaitu sang Haq Alllah SWT.
Selama 18 tahun beliau mengalami penderitaan seperti demikian, selama 18 tahun itu pula istrinya menggantikan posisinya sebagai tulang punggung rumah tangganya, ia bahkan rela menjadi pembantu untuk memenuhi kebutuhan sehari - harinya. Sang istri tidak pernah mengeluh, bahkan  ia selalu setia mendampingi sang suami, tak pernah meninggalkan sang suami siang dan malam, kecuali untuk pergi ke rumah majikannya. Begitu setianya sang istri mendampingi sang Nabi (suami) dalam kondisi yang sedemikian, dan tidak pernah mengeluh selama 18 tahun. Tidak pernah berpikir untuk meninggalkan sang suami dalam kondisi apapun. Begitulah kesetiaan sang istri terhadap suaminya yang dalam kondisi demikian, selama 18 tahun. Mengurus, menjaga bahkan menemaninya siang dan malam tanpa lelah dalam kondisi suami yang seperti demikian, sang istri selalu mencintai dan mengabdi serta tetap beriman dan tawakal kepada Allah selama 18 tahun.  Sampai pada akhirnya, sang Nabi berdoa, meminta kesembuhan kepada Allah, dan Allah mengijabahinya. Dan akhirnya Nabi Ayyub mendapatkan kesembuhan dengan Allah memerintahkan Nabi Ayyub untuk menhentakkan kakinya di tanah tempat ia tinggal dan keluarlah air untuk mandi beliau, lalu Allah memerintahkan untuk menghentakkan kembali kakinya dan keluarlah air untuk minumnya, hingga sembuhlah ia dan kembalilah semua kebahagiaan yang beliau dambakan, bakhan Allah menambahkan kebahagiaan itu kepadanya. Kesetiaan sang istri dan juga keteguhan hati serta kesabaran nabi Ayyub menghadapi kehidupannya yang sedemikian selama 18 tahun, kesetiannya kepada sang Haq Allah, menghasilkan buah yang begitu manis pada akhirnya.
Demikianlah kisahnya.
Sekarang bisa kita bayangkan, dengan kondisi seperti kondisi Nabi dan keluarganya, mampukah kita masih selalu setia kepada ketetapanNYA tanpa kita mengeluh? Bisa di prediksi jawabannya bahwa kemungkinan kita masih belum bisa untuk menahan penderitaan yang sedemikian rupa. Pada saat sekarang, di zaman sekarang, kondisi miskin itu sudah menjadi momok yang sangat menegrikan bagi sebagian orang. Padahal dengan kemiskinan tersebut, kita akan selalu dekat kepada Allah. Bayangkan apabila kita memiliki seorang suami, yang penyakitan, miskin, tidak punya apa - apa bahkan seperti nabi Ayyub kondisinya, mampukah kita bertahan hidup dengannya tnpa kita mengeluh?. Bayangkan apabila kita memiliki keluarga yang miskin, bagi yang belum menikah, mungkin keluarganya adalah keluarga yang kekurangan, miskin, sulit untuk mencari uang untuk sesuap nasi, bahkan bekerjapun tidak seberapa hasilnya, orang tua yang tidak mampu dalam penghasilannya, kurang dalam segalanya, appakah kita mampu bertahan dengan kondisi seperti ini?.
Masih banyak kondisi yang lainnya.
Kita harus wajib menjawab bahwa kita MAMPU untuk bertahan dalam kondisi apapun, bahwa kita harus SETIA dalam kondisi apapun.
SETIA kepada Allah dalam senang maupun susah. SETIA beriman dan bertaqwa kepadaNYA.
SETIA kepada orang tua kita, dalam kondisi apapun. Jangan pernah sekali - kali membentak, mengadu bahkan protes dengan kondisi yang sebagaimanapun.
SETIA kepada pasangan kita dalam kondisi apapun. Contohlah istri Nabi Ayyub yang tidak pernah mengeluh dalam mendampingi suaminya dalam kondisi apapun.
SETIA terhadap apapun yang ada di sekitar kita yang membawa kita dalam jalan kebenaran menuju ridho ALLAH.
Kemiskinan bukanlah akhir dari kehidupan. Jika kita miskin harta, bukankah kita punya hati yang selalu menemani kita selama kita masih bernafas. Bukankah kita punya orang - orang yang mencintai kita di sekeliling kita yang selalu mendampingi kita, mengerti kita dalam kondisi apapun. Kebahagiaan itu tidak terletak pada harta yang semata - mata hanyalah titipan Allah, Jika Allah menghendaki harta itu hilang, dalam sekejap mata, harta itu akan hilang. Dan pada akhirnya kita tidak akan memiliki apa - apa, kecuali Qolbu ini yang tak ternilai harganya.
Semoga bermanfaat....  :)