Rabu, 25 September 2013

SETIA

Saya tidak akan mendeskripsikan apa itu makna setia dalam hal ini. Namun saya hanya memberikan gambaran tentang kesetiaan.
Berikut ini gambarannya :
Pernah mendengar kisahnya Nabi kita Ayyub r.a. Beliau memiliki seorang istri yang sangat setia lagi menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Saat itu keluarga Nabi Ayyub di uji dengan berbagai ujian dari Allah SWT. Dari mulai anak dan harta benda serta tenpat tinggalnya. Beliau hanya memiliki satu rumah yang mana rumah itu adalah satu - satunya tempat berharga untuk bernaung, harta, beliau bahkan bisa di bilang tidak banyak untuk menopang kehidupannya. Di samping itu, sang Nabi juga di uji dengan penyakit yang di deritanya hingga tidak ada sejengkal bagian tubuhpun yang tidak terkena penyakit, namun ada satu yang masih utuh dan tetap utuh untuknya yaitu Qolbu nya. Hatinya yang selalu hidup dan tetap sehat sehingga Beliau mampu tetap beriman dan berkomunikasi dengan sang penciptanya yaitu sang Haq Alllah SWT.
Selama 18 tahun beliau mengalami penderitaan seperti demikian, selama 18 tahun itu pula istrinya menggantikan posisinya sebagai tulang punggung rumah tangganya, ia bahkan rela menjadi pembantu untuk memenuhi kebutuhan sehari - harinya. Sang istri tidak pernah mengeluh, bahkan  ia selalu setia mendampingi sang suami, tak pernah meninggalkan sang suami siang dan malam, kecuali untuk pergi ke rumah majikannya. Begitu setianya sang istri mendampingi sang Nabi (suami) dalam kondisi yang sedemikian, dan tidak pernah mengeluh selama 18 tahun. Tidak pernah berpikir untuk meninggalkan sang suami dalam kondisi apapun. Begitulah kesetiaan sang istri terhadap suaminya yang dalam kondisi demikian, selama 18 tahun. Mengurus, menjaga bahkan menemaninya siang dan malam tanpa lelah dalam kondisi suami yang seperti demikian, sang istri selalu mencintai dan mengabdi serta tetap beriman dan tawakal kepada Allah selama 18 tahun.  Sampai pada akhirnya, sang Nabi berdoa, meminta kesembuhan kepada Allah, dan Allah mengijabahinya. Dan akhirnya Nabi Ayyub mendapatkan kesembuhan dengan Allah memerintahkan Nabi Ayyub untuk menhentakkan kakinya di tanah tempat ia tinggal dan keluarlah air untuk mandi beliau, lalu Allah memerintahkan untuk menghentakkan kembali kakinya dan keluarlah air untuk minumnya, hingga sembuhlah ia dan kembalilah semua kebahagiaan yang beliau dambakan, bakhan Allah menambahkan kebahagiaan itu kepadanya. Kesetiaan sang istri dan juga keteguhan hati serta kesabaran nabi Ayyub menghadapi kehidupannya yang sedemikian selama 18 tahun, kesetiannya kepada sang Haq Allah, menghasilkan buah yang begitu manis pada akhirnya.
Demikianlah kisahnya.
Sekarang bisa kita bayangkan, dengan kondisi seperti kondisi Nabi dan keluarganya, mampukah kita masih selalu setia kepada ketetapanNYA tanpa kita mengeluh? Bisa di prediksi jawabannya bahwa kemungkinan kita masih belum bisa untuk menahan penderitaan yang sedemikian rupa. Pada saat sekarang, di zaman sekarang, kondisi miskin itu sudah menjadi momok yang sangat menegrikan bagi sebagian orang. Padahal dengan kemiskinan tersebut, kita akan selalu dekat kepada Allah. Bayangkan apabila kita memiliki seorang suami, yang penyakitan, miskin, tidak punya apa - apa bahkan seperti nabi Ayyub kondisinya, mampukah kita bertahan hidup dengannya tnpa kita mengeluh?. Bayangkan apabila kita memiliki keluarga yang miskin, bagi yang belum menikah, mungkin keluarganya adalah keluarga yang kekurangan, miskin, sulit untuk mencari uang untuk sesuap nasi, bahkan bekerjapun tidak seberapa hasilnya, orang tua yang tidak mampu dalam penghasilannya, kurang dalam segalanya, appakah kita mampu bertahan dengan kondisi seperti ini?.
Masih banyak kondisi yang lainnya.
Kita harus wajib menjawab bahwa kita MAMPU untuk bertahan dalam kondisi apapun, bahwa kita harus SETIA dalam kondisi apapun.
SETIA kepada Allah dalam senang maupun susah. SETIA beriman dan bertaqwa kepadaNYA.
SETIA kepada orang tua kita, dalam kondisi apapun. Jangan pernah sekali - kali membentak, mengadu bahkan protes dengan kondisi yang sebagaimanapun.
SETIA kepada pasangan kita dalam kondisi apapun. Contohlah istri Nabi Ayyub yang tidak pernah mengeluh dalam mendampingi suaminya dalam kondisi apapun.
SETIA terhadap apapun yang ada di sekitar kita yang membawa kita dalam jalan kebenaran menuju ridho ALLAH.
Kemiskinan bukanlah akhir dari kehidupan. Jika kita miskin harta, bukankah kita punya hati yang selalu menemani kita selama kita masih bernafas. Bukankah kita punya orang - orang yang mencintai kita di sekeliling kita yang selalu mendampingi kita, mengerti kita dalam kondisi apapun. Kebahagiaan itu tidak terletak pada harta yang semata - mata hanyalah titipan Allah, Jika Allah menghendaki harta itu hilang, dalam sekejap mata, harta itu akan hilang. Dan pada akhirnya kita tidak akan memiliki apa - apa, kecuali Qolbu ini yang tak ternilai harganya.
Semoga bermanfaat....  :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar